DARI SECUPAK JADILAH SEGANTANG

Tahun 2025 ini Festival Sastra Melayu Riau (FSMR) menginjak tahun ketiga. Bagi Suku Seni, ini sebuah berkah karena dapat menyelenggarakan perhelatan sastra tahunan dan didukung oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Menjadi lebih istimewa juga karena tahun ini kembali menerbitkan buku, setelah di tahun sebelumnya menerbitkan buku kumpulan puisi Indonesia berjudul “Gurindudendam” (2024) yang menghimpun puisi para penyair Indonesia.
Buku berjudul “Sastra Melayu: dari Secupak Jadilah Segantang” ini menghimpun sejumlah kertas kerja dari para narasumber dalam sejumlah sesi diskusi yang menjadi bagian dari kegiatan FSMR tahun 2023 dan 2024. Topik diskusi meneroka berbagai aspek dari sastra Melayu Riau, mulai dari sejarah perkembangannya hingga upaya pengembangannya di masa kini dalam berbagai bentuk transformasinya, baik wujudnya sebagai teks sastra maupun telah beralih-wahana ke wujud seni yang lain. Pembacaan tersebut setidaknya memberikan sebuah lanskap pemetaan yang kembali “menjelmakan” sastra Melayu sebagai satu pondasi khazanah kesusastraan di Riau. Hal ini merupakan sebuah ikhtiar untuk menyuguhkan sebuah alternatif tematik yang lebih ideologis, alih-alih menyeragamkan capaian kekaryaan—demikian pula halnya niat dibalik penamaan festival ini.
Tahun ini, FSMR mengangkat tema utama “Bertanya Kata kepada Mantra.” Tidak semata memosisikan mantra sebagai salah satu jenis sastra lisan di dunia Melayu, tetapi lebih jauh melihat relevansinya di masa kini di mana kata-kata dalam teks sastra cenderung “mencair” atau “dicair-cairkan” untuk tujuan mendekatkannya kepada pembaca. Maka tema FSMR ini, mencoba memunculkan pandangan sebaliknya bahwa justru teks sastra harus kembali “memadatkan” dirinya di tengah dunia yang serba instan, pragmatis, dan cair. Mantra, yang menjadi medium percakapan masyarakat tradisional boleh jadi sakralitasnya telah memudar seiring memudarnya kepercayaan orang terhadap kata-kata. Banyak orang bisa bicara, tapi sedikit makna. Hingga kata-kata tidak lagi memiliki “kekuatan” yang dapat menggerakkan (pembaca).
Membicarakan kembali mantra, lebih jauh, menjadi penting terlebih karena cukup banyak karya (puisi) yang ditulis oleh penyair Riau mengambil “energinya” dari mantra. Kenapa begitu? Apakah hanya hendak menyusuri jejak para pendahulunya—sebutlah Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah—atau memang ternyata “orang Riau” tidak mudah untuk bisa lepas dari “kata-kata magis” dari mantra. Seolah minda dan lidah orang Riau itu telah bersebati dengan mantra, langsung atau tidak langung, sadar atau tidak sadar. Apakah ini pertanda baik, entah pula pertanda buruk bagi proses penciptaan sastra, perlu pembacaan tekstual lebih jauh.
[Penulis / Penyusun]
- Judul : SASTRA MELAYU: DARI SECUPAK JADILAH SEGANTANG
- Penulis : Jarir Amrun, Griven H Putra, M. Badri,
Hary B Kori’un, Boy Riza Utama, Sudirman Shomary,
Murparsaulian, Alvi Puspita, Fakhrunnas Ma Jabbar,
Maman S Mahayana, Rida K Liamsi, Musa Ismail,
Kunni Masrohanti, Marhalim Zaini - Halaman : x + 166 Halaman
- Ukuran Buku : 13cm x 19cm
- ISBN : —

Leave a Reply