
Zaman kita adalah zaman percepatan. Revolusi digital, krisis ekologis, transformasi politik global, dan ledakan pengetahuan teknosaintifik menciptakan dunia yang berubah lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya.
Generasi muda tidak hanya diminta untuk beradaptasi di tengah pusaran perubahan itu, tetapi juga diminta untuk berpikir secara kritis dan kritis tentang arah dunia ini.
Buku ini merupakan salah satu upaya konkret dari dua mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira), Irenius Boko dan Remigius Taek, untuk turut menyumbangkan pemikiran mereka dalam ruang wacana yang luas dan kompleks ini. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan biasa. Ia lahir
dari pergulatan intelektual yang jujur dan berani dari dua insan muda yang hidup dan dibentuk oleh dinamika sosial, politik, dan kultural Indonesia-khususnya dari konteks Nusa Tenggara Timur (NTT)-yang tak pernah benar-benar lepas dari paradoks kemiskinan, potensi, dan harapan. Di tengah realitas itu, keduanya mencoba memaknai berbagai fenomena global dan lokal dengan semangat kritis dan reflektif, sambil tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab etis.
Dalam bagian tulisan yang membahas isu-isu politik, para penulis dengan tajam mengurai berbagai paradoks dalam praktik demokrasi kita. Mereka tidak berhenti pada kritik dangkal terhadap elit politik, tetapi mencoba menelusuri akar-akar struktural dari krisis representasi yang kita hadapi. Demokrasi yang seharusnya menjadi ruang partisipasi rakyat justru sering kali dikerdilkan menjadi pertunjukan elit, di mana suara-suara kritis dibungkam atau dialihkan ke dalam ruang-ruang simbolik yang steril dari makna sejati. Irenius dan Remigius mengajak kita untuk merefleksikan kembali makna politik bukan sebagai sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sebagai seni mengelola hidup bersama, seni untuk mengupayakan kebaikan bersama (bonum commune). Di sini, filsafat politik menjadi fondasi penting yang digunakan untuk melihat bagaimana kekuasaan, institusi, dan identitas berkelindan dalam kehidupan masyarakat. Keduanya menawarkan sudut pandang yang menyegarkan—bahwa menjadi warga negara bukanlah posisi pasif, melainkan sebuah tindakan moral yang menuntut kesadaran dan partisipasi.
Bab-bab yang menyentuh soal kecerdasan buatan (AI) dan revolusi teknologi digital menawarkan analisis yang jauh dari sekadar kekaguman teknologis. Para penulis tidak terpukau oleh kemajuan AI dalam bentuk-bentuk yang spektakuler,
tetapi justru menaruh perhatian pada krisis kemanusiaan yang menyertainya. Mereka mempertanyakan: apa arti men jadi manusia dalam dunia yang semakin dikendalikan oleh algoritma? Apakah rasionalitas manusia sedang dikaburkan
oleh efisiensi mesin? Apakah kita sedang bergerak ke arah dunia yang kehilangan kedalaman makna?
Dalam semangat filsafat eksistensial dan humanisme kritis, mereka menyelami persoalan-persoalan etis dan ontologis seputar AI: dari persoalan bias algoritmik hingga ancaman dehumanisasi. AI tidak semata persoalan teknis, melainkan juga persoalan moral, sosial, bahkan spiritual. Para penulis menggugat kita untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi subjek reflektif yang
mampu bertanya: ke mana kita akan dibawa oleh semua ini? Di titik inilah, pemikiran-pemikiran mereka memperlihatkan keberanian untuk menyentuh wilayah-wilayah kontemplatif yang sering kali diabaikan oleh diskursus dominan yang hanya menekankan aspek pragmatis dari AI. Isu lingkungan hidup menjadi benang merah penting dalam sebagian tulisan mereka.
NTT sebagai wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, deforestasi, dan krisis air, menjadi latar konkret yang memperkuat urgensi refleksi ekologis mereka. Krisis lingkungan tidak dilihat semata sebagai problem teknis atau kebijakan, melainkan sebagai gejala dari krisis relasi antara manusia dengan bumi. Di sinilah mereka menggemakan panggilan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ untuk sebuah “pertobatan ekologis”—yakni perubahan cara pandang, gaya hidup, dan sistem sosial yang lebih berakar pada kepedulian dan rasa hormat terhadap ciptaan. Tulisan-tulisan mereka mendorong kita untuk melihat bahwa perjuangan ekologis bukanlah domain para aktivis lingkungan semata, tetapi adalah tanggung jawab etis seluruh umat manusia.
Mereka menyadarkan bahwa lingkungan bukanlah objek di luar diri kita, melainkan bagian dari jalinan eksistensial yang melibatkan kita secara mendalam. Gagasan ini menjadi semakin kuat ketika disandingkan dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat NTT yang telah sejak lama hidup selaras dengan alam, meskipun kini nilai-nilai itu mulai terkikis oleh model pembangunan yang eksploitatif dan tidak berkelanjutan.
[Penulis / Penyusun]
- Judul : POLITIK ANTARA DOXA DAN EPISTEME
- Penulis : Irenius P. R. Boko & Remigius Taek
- Halaman : xvi + 124 Halaman
- Ukuran Buku : 13cm x 19cm
- ISBN : —
Leave a Reply